Psycho-Pass

Bayangkan kalau yang namanya kondisi kejiwaan seseorang bisa dimonitor setiap saat dan bisa langsung “dinilai” oleh sebuah sistem yang kemudian menentukan apakah kondisi jiwa orang tersebut berpotensi membahayakan orang-orang di sekitarnya lalu langsung menjatuhkan “vonis” saat itu juga… Serem.

Psycho-Pass adalah sebutan untuk sebuah alat yang di-install ke dalam tubuh seseorang sehingga sistem (komputer?) bisa memonitor kondisi kejiwaannya, kemudian mengukurnya sebagai “Crime Coefficient”. Dari hasil pengukuran koefisien ini, sang sistem yang disebut “Sibyl System” kemudian memberikan penilaian apakah orang tersebut berpotensi membahayakan atau melakukan tindakan kriminal, sekaligus memberikan “vonis” dan menentukan jenis hukuman, mulai dari dilumpuhkan untuk kemudian ditangkap, atau untuk dibunuh saat itu juga.

Untuk menjalankan hasil “pengadilan” Sibyl itu, ada kesatuan khusus yang terdiri dari Enforcer dan Inspector. Enforcer adalah orang-orang dengan Crime Coefficient yang tinggi tetapi masih dapat dikendalikan dan dipekerjakan oleh sistem sebagai “pemburu”. Mereka inilah yang biasanya mencari orang yang dianggap berbahaya oleh sistem dan sekaligus menjadi “algojo”. Sementara Inspector adalah orang-orang yang bertugas mengawasi agar para Enforcer tidak bertindak di luar peraturan. Para penegak hukum ini dipersenjatai oleh sejenis pistol yang disebut sebagai “Dominator”. Senjata ini hanya bisa ditembakkan ke target yang mempunyai Crime Coefficient tinggi. Dan Sibyl System yang akan menentukan seberapa besar kekuatan senjata itu berdasarkan atas status kejiwaan targetnya.

Psycho-Pass Chara

Tsunemori Akane adalah lulusan sekolah perwira dengan nilai tertinggi. Di hari pertamanya berdinas, dia harus langsung terjun ke lapangan dan menangkap orang yang menurut Sibyl System berada dalam kondisi kejiwaan yang berbahaya. Ia diperkenalkan kepada Enforcer yang akan membantu, salah satunya adalah Kogami Shinya. Ketika bertemu dengan tersangka, ternyata ia membawa sandera. Dan si sandera pun secara perlahan kondisi kejiwaannya juga berubah. Setelah si tersangka dibunuh oleh Kogami, Akane berusaha membujuk si sandera karena menurutnya dia masih bisa diselamatkan dan tidak harus dibunuh.

Hmm… Secara genre anime ini bisa dibilang model cyber-punk kayak Ghost in the Shell, dan secara cerita agak mirip dengan Minority Report-nya Tom Cruise dalam hal “mencegah” tindak kriminal. Dengan memonitor kondisi jiwa seseorang, penegak hukum bisa langsung menangkap orang yang dianggap potensial melakukan kejahatan sebelum kejahatannya sendiri terjadi. Kondisi yang sepertinya di kemudian hari akan menimbulkan pertanyaan, mana kasus kejahatannya? toh belum terjadi. Apa bisa seseorang dibilang “penjahat” padahal tidak/belum pernah ada tindak kejahatannya. ^^;

Yang jelas, di anime ini ada Sawashiro lagi. ::lol::

Satu lagi yang menarik perhatian dari anime ini adalah bahwa anime ini mengambil setting di masa depan, banyak teknologi canggih yang sudah dicapai oleh manusia TAPI (!), itu kantornya Akane masih pake kipas angin yang ditempel di langit-langit -_-

Dan organisasi tempat Akane bekerja itu pake lambang mirip Caduceus (atau memang Caduceus?) yang biasanya identik ama kedokteran. Apa mungkin maksudnya berhubungan dengan kedokteran jiwa? 😕

 

Official Website

Script Writer

  •  Urobuchi Gen (Puella Magi Madoka Magica, Fate/Zero)


The system holds justice at gunpoint

Published by

Okita

the captain. watches animes. plays games. listens musics. learns coding. and uh ... works.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *