Categories
Anime

Seishun Buta Yarou wa Bunny Girl Senpai no Yume wo Minai

Rascal does not dream of bunny girl senpai

Azusagawa Sakuta (seiyuu: Ishikawa Kaito) sangat terkejut ketika suatu hari sedang berada di perpustakaan melihat seorang anak perempuan yang mengenakan kontum bunny girl (kelinci) berjalan-jalan tetapi anehnya tidak satu orang pun yang menyadari keberadaannya.

Anak perempuan itu adalah Sakurajima Mai (seiyuu: Seto Asami) kakak kelas Sakuta yang dikenal sebagai seorang model dan artis remaja. Pada saat mereka bertemu, Mai sebenarnya sedang berusaha meninggalkan dunia hiburan karena merasa dirinya mengalami banyak tekanan ketika menjalani kehidupan itu. Dia mulai memperhatikan bahwa orang-orang di sekitarnya seperti tidak menyadari keberadaannya, oleh sebab itu dia melakukan eksperimen dengan menggunakan kostum bunny girl dan berjalan-jalan di keramaian.

Keanehan semakin terjadi ketika lambat laun orang-orang di sekitar mereka berdua perlahan-lahan mulai tidak menyadari bahkan tidak mengetahui keberadaan Mai. Seolah-olah tidak pernah ada seseorang yang bernama Sakurajima Mai pernah eksis di dunia.

Apa yang terjadi pada Mai adalah Puberty Syndrome, sebuah fenomena yang terjadi pada orang di usia tertentu dan memberikan dampak pada kehidupan psiko-sosial mereka. Dalam kasus Mai, sebelumnya dia adalah seorang selebrita dan hampir semua orang mengetahui siapa dia, dan ketika dia memutuskan untuk mundur dari dunia hiburan, lambat laun orang seperti “melupakan” dirinya dan dia seolah-olah “menghilang” dari dunia karena tidak ada satu orang pun yang menyadari keberadaannya.

Sakuta sebagai satu-satunya orang yang bisa “melihat” Mai, memutuskan untuk membantu Mai menghadapi sindroma itu. Dia berusaha membuat dunia “mengetahui” bahwa Mai adalah seorang manusia yang hidup dan eksis di dunia mereka sebagai seorang pribadi, bukan hanya sebagai seorang model atau aktris terkenal. Untuk itu, Sakuta pun memberikan dukungan penuh kepada Mai untuk menjalani kehidupannya baik sebagai seorang pelajar, maupun sebagai seorang selebrita yang terkenal.

Setelah kejadian dengan Mai, Sakuta kemudian menghadapi beberapa anak perempuan dengan Puberty Syndrome selain Mai, termasuk adik kandungnya sendiri, tetapi masing-masing dengan manifestasi yang berbeda. Sakuta pun harus menghadapi berbagai macam variasi fenomena psiko-sosial yang ditimbulkan oleh puberty syndrome dari masing-masing anak perempuan itu, dan dalam setiap usahanya, Sakuta selalu bercerita kepada Mai dan kadang bahkan mendapatkan dukungan dan bantuan dari Mai yang pada saat itu sudah menjalin hubungan dengan Sakuta.

My thoughts?

Agak telat bahasnya… hahaha.

Kalo diliat sepintas memang kayak your typical teen-romance-harem anime. Satu cowok dengan banyak cewek, masing-masing dengan problematika sendiri. Sedikit perbedaan yang paling mencolok adalah hubungan antara Sakuta dengan Mai. Dan adanya fenomena “Puberty Syndrome” itu tadi tentunya.

Hubungan Sakuta dengan Mai juga nggak selesai begitu aja setelah Sakuta berhasil “membuat” Mai kembali eksis di dunia dan orang bisa melihatnya lagi. Lalu setelah itu di episode berikutnya Sakuta ganti fokus ke cewek lain. Nggak kayak gitu. Mereka berdua menjalin hubungan yang saling mendukung bahkan saat Sakuta harus “meluangkan” waktu untuk menolong anak perempuan lain (the other harem girls)

Gue pribadi menginterpretasikan “menghilangnya” Mai dari pandangan orang di sekitarnya adalah sebuah manifestasi dari krisis identitas yang dirasakan Mai. Selama ini dia hidup sebagai seorang selebriti di mana semua orang mengenal dia, mengetahui siapa dia, bagaimana kehidupannya, tetapi semua itu adalah apa yang ditampilkan ke publik sebagai ‘wajah’ Sakurajima Mai, sang idola, dengan segala kebaikannya. Sementara ketika dia ingin kembali ke kehidupan pribadinya, sebagai seorang anak remaja bernama Sakurajima Mai, yang biasa saja, bukan seorang selebriti terkenal, dia seperti menjadi ‘bukan siapa-siapa’ yang mudah dilupakan oleh orang, bahkan tidak dikenali sama sekali. Dia berubah dari “selalu menjadi sorotan” menjadi “sama sekali tidak tersorot”.

Di lain sisi, keliatannya penulis Aobuta (iya, itu singkatannya) seneng memasukkan istilah-istilah atau fenomena populer dalam dunia ilmu pengetahuan, seperti: Schroedinger’s Cat, Laplace’s DemonQuantum Teleportation, dll. Meskipun kalo dipikir mungkin ya njelimet nggak jelas, dan IMHO agak terlalu “over” kalo hal-hal seperti itu bisa dicetuskan dari pemikiran anak SMU. Terlalu kompleks untuk dikontraskan dengan cara ‘penyelesaian’ masalah dengan ‘metode’ sederhana yang dipake sama Sakuta. Tapi ya mungkin di situ daya tariknya?

Secara pribadi, gue ngikutin serial ini karena ya itu, untuk ukuran teen romance si penulis berhasil memasukkan elemen-elemen yang bisa dibilang illogical tapi somehow (mungkin) karena njelimet jadinya seolah semua bisa dijejelin ke dalam logika. Bahkan sebenernya reaksi para tokoh yang ada di situ, terutama Sakuta dan Mai (the main charas) menurut gue bisa dibilang abnormal (=illogical) untuk ukuran remaja.

Cara berpikir dan cara mereka berdua dalam menghadapi situasi yang berjalan terasa jauh dari cara berpikir pantaran usia mereka pada umumnya. Contoh sederhana, Sakuta ingin membantu Kaga dengan berpura-pura jadi pacarnya, sementara dia sendiri sedang menjalin hubungan dengan Mai. Dengan level-headed Mai bisa memahami malah cenderung memberikan dukungan, sesuatu yang “ideal”, di mana pasangan bisa saling mendukung, tapi terasa sangat jauh dari kemungkinan bisa terjadi karena dalam hal ini mendukung pasangannya untuk “berpasangan” dengan orang lain meskipun cuma pura-pura dan bukan dalam konteks kerja, misalnya sebagai aktor film berpasangan dengan orang lain dalam melakoni karakter di film yang sedang dikerjakan. Rasanya sih nggak cuma remaja, mungkin yang usianya sudah lebih dewasa juga belum tentu dengan mudah bisa melakukan itu.

Nonetheless, gue bilang sih serial ini bisa direkomendasikan sebagai tontonan untuk genre romance karena ada elemen-elemen yang unik di dalemnya. Agak njelimet kalo ngikutin penjelasan tentang teori-teori ilmiah yang dijejelin ke otak pemirsanya, tapi ya kalo bisa ambil simplifikasi dari teori-teori itu, mungkin akan terlihat ke mana arah yang ingin dituju sama penulisnya. Atau yang lebih sederhana, lupakan istilah-istilah rumitnya, cukup ikutin aja jalan ceritanya, masih bisa kok sebenernya. Cuma ya jangan nyari penjelasan kenapa bisa begitu, cukup dengan “oh ini fenomena ajaib”. Dan sesuatu yang ajaib itu sah-sah aja mau dijelaskan pake gaya apapun. Gitu aja. ????

Categories
Anime

Saint Seiya: Saintia Shou

Saint Seiya … shounen wa minna …

Saint Seiya: Saintia Shou ini menceritakan tentang Kyoko (seiyuu: Ichimichi Mao) dan Shoko (seiyuu: Suzuki Aina), kakak beradik yang pada masa kecilnya secara misterius bertemu dengan seseorang yang menawarkan sebuah apel emas kepada Shoko. Kyoko berusaha mencegah Shoko agar tidak menerima apel itu tetapi Shoko tidak mendengarkannya dan ketika dia menyadari adanya bahaya, datanglah Scorpio Milo (seiyuu: Seki Toshihiko) yang menghentikan Shoko. Milo mengatakan bahwa Shoko berpotensi untuk menjadi jelmaan kejahatan dan akan membunuhnya tetapi Kyoko bersikeras melindungi adiknya. Melihat hal itu, Milo meninggalkan mereka berdua dan berpesan agar mereka berusaha menjadi kuat agar bisa mengubah takdir dengan kekuatan mereka sendiri.

Setelah beranjak remaja, Shoko yang tinggal bersama ayahnya telah ditinggalkan oleh Kyoko selama beberapa tahun untuk berlatih. Shoko sendiri di rumah melatih dirinya bersama sang ayah. Suatu hari di sekolah, tiba-tiba para murid kehilangan kesadarannya kecuali Shoko, dan dari balik semak muncul perempuan yang menyerang Shoko. Ketika Shoko dalam bahaya, tiba-tiba Kyoko muncul dalam jubah Saint dan menyelamatkannya. Shoko baru mengetahui bahwa selama ini Kyoko berlatih untuk menjadi seorang Saint dan telah berhasil mendapatkan jubah Equuleus. Shoko juga baru mengetahui bahwa murid terpopuler di sekolah itu, Kido Saori (seiyuu: Minase Inori) ternyata adalah titisan Athena dan bahwa Kyoko merupakan salah satu Saint yang bertugas melindungi Athena (bukannya ini kerjaan Seiya dkk ya?)

Malam harinya, ketika Kyoko dan Shoko sedang mengobrol di halaman rumah Saori, mereka kembali diserang oleh musuh yang sama dengan yang mereka hadapi di sekolah, tetapi kali ini dia muncul dalam wujud utamanya yang lebih kuat dan bernama, Dryad Ate. Dia ingin menjadikan Shoko sebagai ‘wadah’ bagi Eris, penguasa kekacauan. Dalam usahanya melindungi Shoko, Kyoko akhirnya mengorbankan dirinya sehingga dia lah yang akhirnya dijadikan wadah Eris, meninggalkan Shoko dan jubah Saintnya. Melihat hal itu, Shoko kemudian memutuskan untuk mengikuti latihan agar dia bisa menjadi seorang Saint dan menyelamatkan kakaknya.

My thoughts?

Agak-agak kontradiktif sih ya jadinya. Dulu seinget gue, di universe Saint Seiya itu dikatakan kalo populasi warrior cewek itu sangat-sangat langka, dan kalaupun ada, mereka diwajibkan memakai topeng. Itupun mereka juga sepertinya nggak punya jubah Saint, lebih ke armor warrior aja.

Waktu munculnya anime Saintia ini juga terkesan nge-pas banget setelah beberapa waktu terakhir rame-rame soal Shun yang menjadi cewek di versi Netflix, sekarang dirilis Saintia yang isinya cewek semua. Nah loh. Mungkin ini sekalian juga untuk “menjawab” alasan Eugene Son mengubah gender Shun (dia bilang karena isinya dudes semua) bahwa ada kok Saint cewek.

Bisa jadi serial ini ditujukan untuk “menjaring” fans generasi baru, eksplorasi untuk perluasan universe atau ya tetep … sama kayak pemikiran Son, untuk memberikan kesetaraan gender? Hey, ada Saint cowok, kenapa cewek nggak bisa? Seperti itukah? Apa memang ada “demand” seperti itu? Soalnya gue liat di jawaban Eugene Son masalah Shun yang dijadiin cewek, kok seolah-olah ada desakan untuk memunculkan bahwa karakter cewek juga jagoan. Tapi kenapa cerita ini dimasukin dalam alur cerita Seiya? Bisa kita liat di beberapa kilasan ada Gold Saints (Milo malah beneran nongol di awal), bayi Saori yang diselamatkan Aioros, dan Saga yang nyamar jadi ‘Paus’ … itu semua alur Sanctuary Chapter, dan si Saintia ini dimasukin sebagai … Prekuel? Apa nggak lebih baik dibikin stand alone aja? ????

Bukan bermaksud negatif, tapi penasaran aja. Soalnya ya itu tadi, di universe Saint Seiya sudah well-established kalo warrior cewek itu ada, mereka bukan non-existent kok, bahkan bukan yang kategori lemah juga, para Saint jagoan itu hasil didikan mereka. Cuma ya di situ mereka semua bertopeng, dan tidak memakai jubah Saint. Lalu sekarang mendadak, Saints cewek ada, dan mereka ada di posisi yang nantinya akan diisi oleh Seiya dkk. Apakah sudah se-mendesak itu untuk memasukkan unsur kesetaraan gender?

Btw, kenapa gue bilang nantinya? Ya kalo dari yang gue liat, di situ kayaknya digambarkan Saori masih sekitaran SMP, belum jadi Miss Kido Saori yang ada di era Seiya dkk. Apakah ini juga berarti kalo Shoko dkk adalah senpai-nya Seiya dkk? Atau mereka ini angkatannya (cikal bakal?) Marin sama Shaina? Tapi sekilas juga liat ada Jabu dkk, dan mereka itu angkatannya Seiya dkk. Jadi? Jadi? … Bingung. Hahaha. ????

Ya gue berharap, nggak jadi terkesan maksa-masuk aja sih. Dan harapan itu nggak ada hubungannya sama masalah gender atau feminisme atau apalah itu. Lagipula, gak kesian apa sama Athena? Udah berapa dewa/dewi yang harus dia hadapin coba? Sekarang ditambahin Eris. Kesannya setiap dewa/dewi yang pernah dikenal di dunia ini semua pengen nantang Athena. ????

Categories
Anime

Goblin Slayer

Seorang Priestess (seiyuu: Ogura Yui) muda yang baru saja selesai menjalani latihan ingin mencoba menjadi seorang adventurer dan mendatangi guild untuk mendaftarkan dirinya. Di situ dia mendapatkan informasi mengenai tingkatan para adventurer dan karena dia adalah seorang pemula, maka rank atau peringkatnya adalah Porcelain.

Setelah mendaftar, dia dihampiri oleh beberapa adventurer lain, (sepertinya) mereka adalah seorang swordsman (pengguna pedang), fighter (bela diri tangan kosong, monk?),dan mage (penyihir pemula) yang juga masih merupakan rank porcelain. Mereka mengajak Priestess untuk berburu goblin meskipun Guild Girl (seiyuu: Uchida Maaya), yang memberikan petunjuk mengenai quest, tampak tidak menyetujui hal tersebut karena terlalu berbahaya untuk level porcelain.

Mereka berempat kemudian masuk ke dalam gua yang merupakan tempat persembunyian goblin yang diduga telah menculik para gadis dari sebuah desa di dekat situ. Pada awalnya mereka penuh dengan keyakinan akan mampu menghadapi para goblin di gua tersebut tetapi apa yang terjadi kemudian adalah hal yang mengerikan di mana swordsman dan mage akhirnya terbunuh oleh sementara nasib monk tidak lebih baik, karena dia tidak langsung dibunuh tetapi disiksa oleh para goblin.

Saat Priestess terpojok oleh para goblin, dia ditolong oleh seseorang yang mengaku bernama Goblin Slayer (seiyuu: Umehara Yuuichiro), seorang adventurer dengan rank Silver. Goblin Slayer dengan mudah (dan sadis) menghabisi semua goblin yang ada dalam gua tersebut termasuk anak-anak mereka. Meskipun dia tidak menyangkal ada kemungkinan goblin yang baik, tetapi dia tetap memilih untuk menghabisi mereka sampai dia menemukan bukti bahwa memang benar ada goblin yang baik.

Setelah kejadian itu, Priestess memutuskan untuk tetap menjadi seorang adventurer dan memulai petualangannya bersama dengan Goblin Slayer.

My thoughts?

Wow … just wow. ????

Tapi sebelum ngomongin lebih jauh, gue harus mengakui agak bingung bagaimana menterjemahkan istilah-istilah yang dipake tanpa harus keliatan “kaku” ketika ditranslasikan ke bahasa Indonesia. Mungkin yang pekerjaannya memang khusus sebagai penerjemah bisa menemukan kata-kata yang lebih pas. Karena gue bukan profesional di bidang bahasa tadi, jadi ya gue pilih tetap mempertahankan istilah kayak adventurer, Priestess, swordsman, fighter/monk, mage, dst. Dan khusus untuk yang tangan kosong, ada beberapa karakter di MMORPG yang bertarung dengan tangan kosong/fighter, yang populer biasanya sih memang kelas Monk, lainnya lagi ada Pugilist, Taekwon, dll.

Satu catatan lagi, memang dari sononya para karakter ini nggak dikasih nama. Mereka cuma diperkenalkan dengan sebutan sesuai deskripsi karakternya (yang mungkin buat para penggemar MMORPG atau sejenisnya pasti udah sangat familiar). Seperti Priestess ya tetep aja dinamain Priestess, nggak ada nama karakternya. Bahkan “NPC” nya pun cuma disebut Guild Girl atau Cow Girl. Dan nggak disebutin juga apakah ini isekai, atau ya memang ini cerita di dunia itu, bukan program transmigrasi. ????

Back to the story

Ini episode pertama udah langsung dark and gory. Tanpa basa basi anggota party dibantai dan ehem… dilecehkan sama para goblin itu. Deskripsi pertarungannya sendiri sih kalo pas melibatkan korbannya manusia, nggak diliatin secara langsung moncrotnya tapi kalo pas hajar goblin keliatan lebih dramatis.

Goblin Slayer sendiri juga digambarkan nggak terlalu banyak basa-basi dan datar tanpa emosi. Dia juga dengan mudah membunuh si mage yang memang sebenarnya sudah nggak mungkin tertolong lagi. Dilihat dari sudut pandang lain, memang sebenernya si GS justru malah menyelamatkan si mage dari siksaan akibat racun yang menyebar dalam tubuhnya secara perlahan dan menyiksa si mage (sampai mati).

Anyway, gue pengen coba liat ini anime sampai at least 5 episode dulu deh sebelum memutuskan akan ikutin atau nggak. Kalo ini isekai, ya ini berarti isekai yang agak beda karena karakternya nggak jadi dewa di dunia alternatif. Si GS sendiri juga bisa menjadi seperti itu karena dia memang mengkhususkan dirinya hanya mengambil quest yang berkaitan dengan pembantaian goblin, jadi dia punya pengalaman dan pengetahuan yang cukup luas mengenai goblin, bukan karena browsing internet. ????

 

LINKS