Anime, Pajak Bea Masuk, dan Bajakan

NB: berdasarkan masukan dari beberapa komen, meskipun sama-sama pungutan yang diberlakukan oleh negara, tapi ada perbedaan definisi ‘bea masuk’ dan ‘pajak’ . Di surat yang gue pajang di sini ada rincian bea masuk dan pajak. Karena waktu kejadian semua petugas yang berinteraksi dengan gue (personally atau by phone) nyebut biaya yang harus dibayar itu sebagai ‘pajak’, sebagai awam ya gue ikutin itu. Terima kasih atas informasinya.

 

Kalimat pembukanya sok puitis biar agak dramatis dikit hehehe… Jadi begini ceritanya … *auuuuu … BGM: musik pelem horor …

tiket

Sekitar pertengahan bulan Maret 2013, kalo masih pada inget, kan ada tuh event di Jakarta yang berkaitan dengan dunia per-anime-an, yang disebut dengan JIMPACT. Sebagai penggemar anime, tentunya gue menyempatkan diri untuk nonton salah satu film yang ditayangkan, yaitu 009 RE:CYBORG. Lagipula, itu salah satu anime yang gue tonton waktu awal-awal kenal anime jaman dulu. Malah sempet juga nonton Cyborg 009 yang masih item putih (!). Singkat kata singkat cerita, abis nonton Francoise err … 009 itu, jadi kepingin punya alias mengkoleksi filmnya. Sebagai penggemar yang baik, tentunya pengen mengkoleksi barang aslinya, bukan copy-an atau ya … bajagan. Kebetulan juga udah sering beli barang sejenis dari Jepun lewat toko online langganan yang, for me, the best. Setelah browsing di toko itu, mereka bilang deluxe edition akan dirilis tanggal 22 Mei 2013 jadi kalau mau pesen dulu. Lagi-lagi karena udah biasa, ya sudah oke saja. Apalagi ada embel-embel Deluxe Edition, dapet bonus berisi 1 BD 2D, 1 BD 3D, 1 lagi dokumenternya, dapet booklet, dan dapet bonus 2 foto. Excited dong. Orderan sudah oke, tinggal tunggu tanggal rilis.

deluxe-009

Sampai suatu ketika hari yang dinantikan pun tiba! *jreeengggg… eng-ing-eng… Dapet e-mail dari tokonya, barang udah dikirim dan karena itu lumayan mahal (buat gue ya mahal, maklum gaji rakyat jelata), nggak berani lah ambil resiko lewat pos biasa. Takutnya kalo lost, nggak bisa dilacak. Jadilah minta dikirim pake pos tercatat alias E*S (ciee… pake disensor. Sok misterius). Udah gitu, kalo pake pos biasa, biasanya baru nyampe paling cepet 2 minggu (paling lama sebulan) dari sejak dikirim, kalo lewat kurir akan lebih cepet sampainya. Dan bener aja, seperti biasanya, gue akan dapat surat panggilan dari kantor pos yang menerima barang itu. Di surat itu biasanya tertulis jumlah pajak yang harus gue bayar untuk “menebus” paket itu di kantor pos. Selama ini, biasanya pajak yang dikenakan ke gue itu di kisaran 10%-20% dari harga yang tertera di nota yang disertakan oleh si toko. Nah, katakanlah barang itu harganya sekitar 10.000¥ berarti kalo rupiahnya sekitar 1 jutaan, maka pajaknya biasanya (yang gue tau) sekitar Rp. 200.000,- (yah, kurang lebih lah). Sebagai warga negara yang baik, dan penggemar yang juga baik, tentunya udah siap dong bayar pajak itu. No problemo. Orang bijak taat pajak. (so they say).

Tetapi betapa terkejutnya diriku bukan alang kepalang (halah!) ketika melihat rincian pajak yang harus dibayarkan menurut surat panggilan itu. Di surat itu tertulis, pajak yang harus gue bayar untuk ‘menebus’ barang tersebut adalah Rp. 4.631.975,- !!!! Itu sama dengan sekitar 5 (lima!) kali lipat dari harga barangnya sendiri. Jadi untuk bayar pajaknya aja, itu sama dengan gue bayar/beli barang itu + 5 lagi barang yang sama. This is insane. Gue juga bukan baru pertama kali ini beli barang beginian dari Jepun, dan selama ini semuanya make sense aja pajaknya. Dan gue bukannya nggak mau bayar pajak. Mau. Tapi mbok ya yang manusiawi pajaknya.

Gue coba telpon ke kantor posnya untuk konfirmasi, apa memang bener seperti itu perhitungan pajaknya? Siapa tau keliru, itu sebenernya pajak yang buat importir film atau perusahaan distributor film atau layar tancep gitu. Pihak kantor pos sih jawabannya,

Wah pak, itu yang bikin perhitungan pajaknya pihak bea di bandara. Kami di kantor pos hanya menerima paket beserta hasil perhitungan. Kalau bapak keberatan dengan pajaknya, silahkan ditanyakan langsung saja pak ke kantor yang di bandara. Tapi memang aneh sih ini pak, apa iya pajaknya segini? Harga barangnya padahal nggak seberapa dibanding pajaknya. Coba diurus aja pak ke bandara.

Ya gue juga sekalian tanya, nasib barang itu bagaimana seandainya gue nggak bayar pajaknya/nggak nebus. Katanya ya akan dikirim kembali ke Jepang kalo dalam jangka waktu tertentu (sekitar 1 bulan) nggak ada yang bayar pajak. Hmm … dengan segala hormat, gue merasa nggak yakin juga itu barang bakalan dikembaliin kalo udah selama itu. Yang ada mungkin malah hilang itu barang. *maap pak pos, berburuk sangka nih… Dengan pertimbangan itu, ya gue minta aja untuk dikembalikan karena ya … nggak mampu lah bayar pajaknya. Wong buat bayar barang + ongkos kirimnya aja udah keringet dingin, lha kalo ditambah bayar pajaknya ini ya bisa keringet berlian jadinya …

Tapi yang namanya penasaran, meskipun minta dikembaliin, tetep aja gue sowan ke bandara, dan betapa mengharukannya ketika sampai di sana gue disambut banyak orang … … … yang ternyata calo semua … Konyolnya, nggak nampak satupun petugas bandara, atau orang yang berseragam lah minimal, di sana. Jadi mau nanya informasi itu nggak jelas ke mana atau kepada siapa. Yang ada, dan sedikit memaksa, itu ya para petugas freelance itu tadi. Ditanya tempatnya di mana, nggak ada yang mau nunjukin arah selain jawaban “Mau ambil barang apa? Ikut saya aja” yang berarti, “gue yang antar lu ke sana, jadi nanti ada fee nya buat gue karena udah (minimal) anter lu ke sana”.

cargo

Sampai di kantor bandara, ternyata masih masuk ke dalam lagi dan harus jalan agak jauh dari tempat gue parkir kendaraan. Lha wong papan petunjuknya ke arah situ, pas udah parkir, ternyata si kantor yang dimaksud itu masih masuk ke dalam lagi, dan di dalam ada tempat parkirnya juga … Terus di dalam, guide dadakan gue itu masuk ke dalam ruangan yang ada di situ setelah nanya barang apa yang mau gue urus. Gue pikir ya udah lah, mau gimana lagi, gue ngemeng apa aja juga dia bakalan tetep stick around di situ ngeyel menawarkan jasa ngurusin. Nggak lama dia keluar dari ruangan itu, katanya memang pajaknya segitu. Kalo gue nggak percaya disuruh ketemu aja ama wakil kepala bea nya, soalnya ibu kepala nya nggak masuk hari itu.

Ya sudah, masuklah gue ke ruangan itu, ketemu dengan Bapak Yang Terhormat. Begitu ketemu, beliaunya langsung bilang

Kenapa ini? Nggak terima sama pajaknya?

Ya gue sih jujur aja bilang, “Ya iya sih pak. Apa iya pajaknya semahal itu? Itu kan pajaknya aja hampir 5 kali lipat harga barang aslinya.” *Bukan gak mau, gak masuk akal aja buat gue. Dan beliau menjawab dengan penuh wibawa,

Ya bisa aja pajaknya segitu. Sepuluh kali lipat pun bisa saja. Kalo nggak percaya, ini buku tarif yang berlaku. Trus ketemu situ sama bapak yang itu. Dia yang hitung semua. (sambil manggil bapak yang satu lagi) Nih, tunjukin aja ke bapak ini itungannya.

Karena disuruh ke situ, ya gue temuin lah bapak itu. Bapak itu mempersilahkan gue duduk, dan bilang, sebentar ya pak, kita coba cek sama-sama di komputer. Trus mulailah dicari datanya barang itu (sambil ditungguin Bapak Yang Terhormat berdiri di belakang gue). Ketemu datanya, si bapak yang ngitung itu bilang

Bp : “Ini DVD ya pak?
Gue: “Iya. Blu-ray tepatnya.

Bp: “Isinya film apa ya pak?
Gue: “Film kartun

Bp: “Bapak tau durasinya nggak pak?
Gue: “Di website tokonya kalo nggak salah sekitar 107 menit ditulisnya

Bp: “Di sini infonya durasi 180 menit pak, berarti ini paketnya sudah dibuka dan disetel
Gue: Lho? Berarti itu segelnya dibuka dong kalo gitu?
Bp: “Ya mestinya pak. Kalo nggak ini mana bisa di sini diinput 180 menit sama petugasnya.”
Gue: Lalu?

Bp: “Berdasarkan peraturan baru pak, per 2012, film itu pajaknya bukan dihitung berdasarkan persen, tapi berdasarkan durasi. Dan perhitungannya adalah Rp. 21.450,- / menit. Total ya 21.450 x 180 pak, jadi sekitar 3 juta sekian, ditambah dengan lain-lain.” (seperti rincian di gambar atas)
Gue: Aturannya kok gitu ya pak? Ini kan untuk pemakaian pribadi, bahkan dari negara pengirimnya pun statement nya ada di situ “For Personal Use”, artinya bukan untuk didistribusikan atau dikomersialkan.

Bp: “Mungkin peraturan ini maksudnya untuk melindungi distributor film pak
Gue: “Tapi ini nggak melindungi pribadi yang ingin beli barang pak. dan distributor film kita juga nggak ada yang mau masukin film begini.

Bp: “Ya gimana ya pak, peraturannya sekarang begitu. Gimana pak? Barangnya mau diambil?
Gue: “Wah. Nggak pak. Nggak sanggup saya bayar pajaknya. Kembaliin aja ke Jepang. Nanti saya beli bajakannya aja pak. Lebih murah.
Bp: “Ya memang sih pak. Makanya pembajakan di Indonesia susah hilangnya …
Gue: “” *hey, it’s your rules

Bp: “Atau gini deh pak, ini film kartun ya? Dari amerika?
Gue: “Bukan. Dari Jepang.
Bp: “Oo. Ini bukan produksi Hollywood gitu pak?
Gue: “Ya bukan. Jepang nggak punya Hollywood.
Bp: “Sebentar deh pak. Coba saya lihat dulu barangnya di bagian paket

Gue akhirnya nunggu di bangku di luar ruangan tadi, dan si Bp itu datang sama temannya satu lagi. Dia bilang ini orang yang bagian ngurus paket, si orang ini bilang ke gue “Pak, kemarin bilang sama pihak kantor pos untuk dikembaliin aja ya? Barangnya barusan pagi ini berangkat ke Jepang itu pak. Gimana ya?” Gue jawab “Oh ya nggak apa-apa. Malah lebih bagus kok kalo kembali ke sana“. Dan mereka berdua heran ngeliat gue, lalu si Bp nanya gue “Kok bapak kayaknya malah lebih seneng barangnya balik ke Jepang ya pak?” Hahaha… gue bilang, “Ya mendingan balik ke sana aja. Nasibnya lebih jelas.

Pulang dari bandara, gue langsung e-mail ke Jepangnya, ngasih tau kalo barangnya ada trouble in custom, jadi terpaksa dikirim balik ke sana. Nggak gue ceritain sih kenapa-nya. Dan karena gue udah langganan, mereka ok-ok aja, sambil info kalo misalnya gue tetep mau minta dikirim lagi, mereka akan kirim lagi itu barang. Ya sudah, setidaknya di sisi sana udah beres.

Tapi … Tiba-tiba muncul kabar buruk. Pihak Jepang e-mail gue. Mereka bilang barang sudah sampai CUMA(!) sudah dalam kondisi segel dibuka (ya berarti bener si Bp itu, dibuka) , ada yang cacat , dan yang paling keren, bonus item-nya hilang.

Hi
Thank you for your e-mail.
We can send it again, but the item is opened by someone, it doesn’t look new, some damaged.
And bonus item was missing on your package.

Kalo begini, seandainya gue mau cancel pembelian dan minta refund kan jadinya nggak bisa, wong barangnya udah rusak dan udah ada yang hilang. Yang ada ya gue harus ucapkan selamat tinggal sama duit yang udah dipake bayar itu. Dan itu nggak bisa ditolak, karena itu udah ada di terms and condition tokonya (dan setau gue, semua toko juga seperti itu. Wajar aja.).

Jepangnya bilang, barang itu sudah nggak mungkin mereka kirimkan balik karena sudah menjadi kebijakan perusahaan untuk tidak mengirimkan barang yang kondisinya cacat, tapi mereka menjanjikan akan mengirimkan barang yang sama seandainya nanti ada lagi karena yang “First Press Edition” sudah nggak ada lagi alias sold out. Dan hebatnya, mereka nggak minta gue bayar apa-apa selain ongkos kirim aja. Jadi gue nggak diitung beli barang baru, tapi dituker barang baru ama mereka. Meskipun mereka bilang nggak bisa kirimin yang seperti First Press Edition, buat gue dengan mereka menjanjikan sesuatu seperti itu aja udah luar biasa banget.

Sekarang ya … itu jadi pelajaran. Bahwa film, kalo beli di luar negeri lewat online store kayak gini, harus udah siap ama pajaknya. Malah sempet coba browsing-browsing, ternyata ada juga yang kena kasus serupa cuma ya lebih parah. Orang itu ceritanya beli DVD trilogi Lord of the Rings seharga sekitar US$60.00 (sekitar Rp. 600-700 ribu-an), cuma kan tau sendiri durasi satu filmnya lama (sekitar 3 jam), udah gitu ini tiga-tiganya sekaligus. Lalu setelah dihitung oleh pihak bea, maka pajak yang harus dibayar sekitar: 3 jam = 3 x 60 menit = 180 menit. 180 menit x 3 film = 540 menit. Pajaknya: 540 menit x Rp. 21.450,- = 11 juta-an (minimal, karena biaya lain-lain belum dihitung). Luar biasa.

Lalu pertanyaannya, bagaimana caranya penetapan besaran pajak itu bisa melindungi hak cipta atau hak atas kekayaan intelektual dari pembajakan? Kalo menurut gue sih, itu malah menyuburkan pembajakan. Karena orang yang ingin mengikuti ‘jalur yang legal’ akhirnya malah ‘dijegal’ oleh pajak peraturan, jadi ya bukan tidak mungkin pada akhirnya orang banyak yang beralih ke jalur bajagan…

NB: buat yang penasaran, bisa dicoba kunjungi situs resmi beacukai,

http://www.beacukai.go.id  di menu bagian atas pilih Home > Aplikasi & Layanan, lalu di bagian menu sebelah kiri Browse Tarif Bea Masuk, pilih “Uraian Bahasa Indonesia” trus masukin aja “film”, ada banyak yang keluar, tapi di kolom “BM” atau “TAX” cari aja yang angkanya 21,45 (21.450 rupiah/menit).

bmtax

Hiduplah Indonesia Raya …

170 thoughts on “Anime, Pajak Bea Masuk, dan Bajakan”

  1. Haha bagus juga tanggapan lo ke petugas bea cukai itu, barang tsb bakal lebih jelas asal usulnya dibanding dibongkar pasang disini… Emang sih mereka punya kewenangan untuk ngecek, tp dari pengalaman orang orang sekitar gw, barang2 importnya malah sampe di tangan dengan kondisi ‘mengenaskan’…

    Btw gw beli LOTR extended edition, satu CD bisa 2 jam lebih, tapi harganya 600an gak pake pajak hehe, ga ngerti deh kenapa.http://www.animindo.net/wp-includes/images/smilies/baggy-eye.gif

    1. Ya berarti pas “hoki” tuh. Hahaha. Kabarnya sih aturan ini berkaitan ama kasus waktu film hollywood ngilang dari bioskop indonesia. Diboikot krn pajaknya kemahalan. ^^;

  2. setelah ane baca ya gan
    tanggapan ane muke gile tuh pajaknya, g wajar banget tuh
    apalagi ada barang yang ilang -_-http://www.animindo.net/wp-includes/images/smilies/angry.gif

    1. hehehe… sayangnya, itu aturan yang sedang berlaku sekarang, bukan hasil rekayasa petugasnya.

      kalo soal barang yang ilang, ikutin komentar jepangnya aja:

      The customs inspections must have forgotten to put it back in

      *berprasangka baik http://www.animindo.net/wp-includes/images/smilies/wink.gif

        1. kalo ilang itu tanggung jawab si perusahaan jasa titipan (pos, fedex, dhl dan teman temannya), karena waktu diperiksa mereka yang buka kemasannya dan yang bungkus kembali

  3. Nice share gan…
    baru tau juga kayak gini systemnya..
    Jadi agk emosi liat tukang PAJAK..haha

    1. hehehe… sebenernya sih pajak memang pasti ada di negara mana-mana. cuma ya tolong lah, nyari penghasilan buat negara lewat pajak juga nggak segitunya kali. http://www.animindo.net/wp-includes/images/smilies/razz.gif

      Tapi ya, ada banyak jalan menuju Roma … 😀

    2. kok emosi cuma ama TUKANGnya mas? tukang cuma ngejalanin aturan tanpa ikutan proses politik di belakangnya http://www.animindo.net/wp-includes/images/smilies/blush.gif
      kalo mereka emang mau nakal bisa aja kan nawarin uang damai http://www.animindo.net/wp-includes/images/smilies/shake.gif
      masalahnya kalo ga nerapin tarif itu, meskipun tanpa embel-embel pelicin, mereka yg kena sanksi dari bos
      malah bisa diseret ke pidana korupsi karena terkait keuangan negara

      saya jg kaget sih tarifnya kok semahal itu
      setelah browsing2, ternyata penyebabnya (?) krn sengketa royalti film impor buat diputer di bioskop (2011)
      knp film yg buat home entertainment jg kena getahnya http://www.animindo.net/wp-includes/images/smilies/broken.gif

      1. Waduh. Nggak tau deh yg mana yg menyatakan emosi kepada petugasnya doang ya (kecuali komen di atas itu … ^^;). Bahwa cara jawabnya ada yg agak gak enak di kuping sih iya, tapi personally kalo gue berpendapat mereka juga cuma jalanin aturan kok. Makanya gue kasih link aturannya dan gue nggak nyebut apa-apa soal petugasnya (minta duit dll). Kalo calo nya sih lain cerita hahaha.

  4. jadi kalau Blu-ray itu hitungannya per-durasi?

    yang lalu, beberapa kali lolos begitu saja… tapi setelah liat ini kok jadi risih ya beli BD animu dari jepang langsung…

    1. bukan karena blu-ray nya. tapi karena itu kategorinya “film”. dan film itu dihitung durasinya. jadi kalo menurut buku tarif kepabeanan 2012, yg gue beli itu masuknya:

      – – – – – – Film sinematografi selain film berita, film perjalanan, film teknis, film ilmu pengetahuan, dan film dokumenter lainnya

      atau kalo mau coba liat, coba aja ke website http://www.beacukai.go.id > Home > Aplikasi & Layanan di bagian Browse Tarif Bea Masuk, pilih “Uraian Bahasa Indonesia” trus masukin aja “film”, ada banyak yang keluar, tapi di kolom “BM” atau “TAX” cari aja yang angkanya 21,45 (21.450 rupiah/menit).

      atau ya … donlod aja file excelnya. masukin aja di gugel “buku tarif kepabeanan indonesia 2012” pasti keluar. http://www.animindo.net/wp-includes/images/smilies/ok.gif

      gue sendiri juga sebenernya selama ini asik aja kalo beli by online. Makanya kaget juga pas tau sekarang ada perhitungan model baru kayak gini. ^^;

      1. Wih… lama2 gw jadi was – was mau beli BD anime dari jepang….
        Pajaknya aja segitu….
        Menurutku sih emang Indonesia harus melindungi negaranya dari produk – produk luar, tapi kalo kayak gini sih malah bukan melindungi, tapi udah ada masalah dari kebijakan pajak yang ada….

        Pembajakan ga akan pernah selesai kalau kayak gini
        dan akibatnya Indonesia sekarang masuk Priority Watch List
        yang mana bikin harga2 yang masuk Indonesia dinaikan dari sananya….

        1. yang jelas sih gue nggak tau ya pertimbangannya apa. cuma ya kalo kayak anime gitu kan memang di indo nggak ada yang masukin. ada pun cuma 1-2 judul, jadi ya susah kalo ngandalin distributor lokal masukin.

          sementara di indo sendiri produk animasinya masih belum keliatan. malah kayaknya nggak/kurang diminati jadi berasa nggak berkembang. ada yang mencoba bertahan dan berkarya tapi sepertinya kurang disupport. ^^;

      2. Maksih buat infonya…
        aduh, durasi 50 menit aja bea masuknya sejuta lebih http://www.animindo.net/wp-includes/images/smilies/sob.gif

        padahal harga BDnya cuman 750K~ http://www.animindo.net/wp-includes/images/smilies/awe.gif

        ini berlaku ke opsi pengiriman air mail juga yah? http://www.animindo.net/wp-includes/images/smilies/awe.gifhttp://www.animindo.net/wp-includes/images/smilies/awe.gif

        1. yang gue tau itu sih berlaku untuk E*S. denger2 sih bangsanya Fed*x atau D*L sama juga. kalo airmail … coba aja. 😀

        2. Air mail itu EMS kan. Ada yang bilang lewat laut lebih longgar, tapi tibanya entah kapan.

          Fedex atau DHL mending jangan dipake kecuali terpaksa.
          Pakai EMS bakal ditagih pajak sama bea cukai ditambah ongkos kirim lokal yang gak lebih dari 20 ribu. Sementara pakai perusahaan swasta bakal ditagihin pajak dari bea cukai + ongkos repot mereka jadi meja birokrasi tambahan + ongkos kirim lokal. Dan kalau ada keluhan pajak sama aja, mereka suruh kita yang urus sendiri protesnya ke bea cukai.

        3. Kemarin beli BD Love Live! #6
          engga kena biaya sepeser pun (lagi) http://www.animindo.net/wp-includes/images/smilies/question.gif
          entah ini selama pakai opsi air small cuma kena Bea pas beli Figma yang emang banyak dan kotaknya gede…

          kalau kotak paketnya kecil, mau harganya >50$ BD ataupun Figur etc. (tapi emang belom pernah sampe 150$ sih) selalu sampe dirumah gitu aja…

      3. gan, saya mau bilang klo pajak film yg pake dinilai per durasi itu klo impor film gan, bukan barang paket pos perorangan. http://pajaktaxes.blogspot.com/2012/01/impor-dvd-film.html

        sedang untuk barang paket dikenakan pajak bila memiliki harga minimal $50 USD. http://www.beacukai.go.id/index.html?page=faq/kiriman-dan-paket.html

        sedang tarifnya
        http://ems.posindonesia.co.id/custom.html

        sebaiknya waktu itu agan komplain ke web resmi beacukai aja krn mereka sekarang membuka laman aduan terkait bea cukai dan pajaknya. mudah-mudahan bisa jadi pelajaran buat kita semua, dan kejadian serupa tidak terulang lagi gan.

          1. Website ini sudah gue baca sebelum gue ke bandara gan. Tapi kalo agan baca lebih teliti, yang dibahas di blog itu adalah pendapat si blogger utk menyiasati kategori “film impor” menurut PerMenKeu. Bukan mengacu pada UU kepabeanan di mana Buku Tarif Kepabeanan Indonesia bernaung. Satu permenkeu, satu UU. Setau gue ya lbh tinggi UU.

            Yanf paling mendasar, yg ditulis oleh blogger itu adalah pendapat beliaunya. Sementara di situs resmi, nggak ada “pertimbangan” seperti itu.

            Nggak blg itu argumen yg salah ya, tapi gue jg sempat nyebut kalo itu kan barang pribadi, nggak bisa dikategorikan “importir” tapi tetep nggak bisa.

        1. Sebenernya gue udah coba bilang gitu gan. Bahwa itu dvd perorangan. Tapi ya seperti gue tulis di atas, petugas yg ada di tempat jawabannya sama. Dibilangnya nggak ada pembedaan seperti itu.

  5. Wah parah amat pajaknya…. selama ini baru beli game2 import dan kartu doank dari jepang…. sempet niat mau beli original DVD dari sana ga jadi deh liat pajaknya kayak gini….