Posts: 1,934
Threads: 5
Joined: Mar 2007
Un. Jyaa... sore wa tsukaeru ne ^^
Posts: 2,053
Threads: 4
Joined: Mar 2007
tsukaimasu kamo ^^
Cuma, yang pergi beneran jadi cuma bisa Kira ama Yuka deh
Firiel nyusul kan......sama, kalau mungkin, belakangan bakalan butuh Lia juga kali
Posts: 1,934
Threads: 5
Joined: Mar 2007
Lia posisinya nanti buat apa ?
Posts: 2,053
Threads: 4
Joined: Mar 2007
***-Sarcos Butai no Taicho desu kara
Posts: 1,934
Threads: 5
Joined: Mar 2007
Jadi dia yang nanti tugas ngebantai ?
Posts: 2,053
Threads: 4
Joined: Mar 2007
tepatnya sih, ngelacak
Rancarte kan bisa resonansi sama 'jiwa yang butuh penyelamatan'
Posts: 1,934
Threads: 5
Joined: Mar 2007
Tapi jauh juga sampe ke sana ya... atau dia emang nemenin Firiel ?
Posts: 2,053
Threads: 4
Joined: Mar 2007
dengan alasan pengawal? :fox9:
Firiel, ichiou muboubi desu
Posts: 1,934
Threads: 5
Joined: Mar 2007
Atau bisa juga malah dia ngejar Firiel yang kabur
Posts: 1,934
Threads: 5
Joined: Mar 2007
Draft nyoba nyoba...
Quote:Seharusnya, hari itu adalah hari biasa saja, kehidupan kami para elf berlangsung biasa saja di hutan. Kami tak benci manusia, tapi membenci perang manusia itu adalah hal yang wajar. Bahkan mereka yang memulainya juga pasti tidak suka. Tapi kali ini, kami terseret masuk dengan cara yang terburuk.
Beberapa hari lalu, ada rombongan manusia yang lewat. Karena mereka kelihatan baik baik saja dan hanya ingin menyeberangi hutan, kami juga tidak mengganggu mereka. Namun, pagi ini seorang Ranger kembali membawa berita yang sangat meresahkan.
Kemarin, mereka mulai saling bertengkar. Mungkin merasa putus asa oleh penderitaan perang. Dan pagi ini, mimpi buruk yang diciptakan Alderole mendatangi hutan.
Salah seorang dari mereka adalah Sarcos. Seluruh rombongan manusia itu sudah mati. Satu persatu hewan hutan yang ada juga dibunuhnya. Kini, dia bergerak menuju ke desa kami.
Semua Sarcos bentuknya mengerikan, wujud pengrusakan penciptaan yang tak bisa terlupakan seumur hidup.
Yang datang ke hutan kami, wujudnya yang pertama terlihat adalah sulur sulur panjang yang ujungnya memiliki satu cakar yang panjang. Dia menggunakannya untuk menusuk ke hutan pohon sebagai alat gerak, dan ketika menusuk, ada sulur lagi didalam yang menghujam masuk kedalam batang.
Sisa sisa wujud manusianya masih terlihat. Kepalanya, kulit wajahnya berubah tekstur seperti pohon dengan kulit kayu yang dipenuhi pembuluh yang mengalirkan darah. Tengkorak itu terbelah menjadi tiga bagian vertikal, dan dari samping kiri dan kanan bagian tengah yang terangkat, sepasang mata tumbuh keluar dari otak, mengawasi keadaan disekitarnya, bersama dengan mata mata yang tampak ada dibawah permukaan kulit sulurnya.
Dari lubang matanya, masing masing empat sulur pendek yang bergerak liar. Dalam mulutnya, tangan tangan seperti milik serangga dan bermata, yang tengah mengoyak ngoyak seekor binatang yang tak jelas lagi bentuk aslinya.
Badannya ditembus oleh batangan kayu, dan tergantung dibawahnya adalah bentuk kereta yang sudah berubah menjadi daging, berdenyut denyut hidup. Dari dalam, terdengar jeritan dan wujud mirip gumpalan daging bertangan yang meminta minta korban.
Kaki dan tangannya telah hilang, berubah menjadi sulur yang kini makin memenuhi hutan dan menembusi para sukuku yang berlari dibelakang.
Kami berusaha melawan, namun dia bergerak cepat sekali diatas. Semakin kami menyerang, semakin dia menghabiskan nyawa pohon pohon untuk menyembuhkan dirinya. Semua bekas sayatan tampak terjahit kembali saat itu juga.
Hingga akhirnya, hanya beberapa orang dari kami yang masih bertahan. Saya menggenggam erat Rancarte, gemetaran. Dari jarak sejauh belasan langkah, saya sadar, Sarcos adalah mimpi buruk bagi mereka yang mengetahui. Bagi kami yang menghadapi, Sarcos adalah pemahat pemandangan neraka dunia. Hutan kami berubah menjadi monster, dan mayat mayat bergelimpangan, bahkan ada yang masih hidup, tapi tubuhnya sudah seperti boneka karena dipenuhi oleh sulur mahkluk itu.
Keluargaku... mereka sudah habis, entah dimana diantara aliran sungai darah dan pepohonan yang tumbang. Dalam hati yang sudah dipenuhi keputus asaan, doa yang bisa kupanjatkan hanyalah, semoga mereka sudah meninggal dengan cepat.
Suara berdengung...
dari mana ?
Di mataku, tampak hutan yang tertutup salju. Anehnya, walaupun dingin, tapi saya malah berhenti gemetaran.
Perasaan ini datang dari Rancarte.
Sebelumnya tak pernah begini.
'Bantu saya.' ada perasaan yang mengalir masuk, bukan dalam bentuk kata kata.
Sarcos itu melihat kearahku... jeritannya menusuk hati, terdengar memilukan sesaat sebelum kemudian menjadi kosong tanpa perasaan.
=========
Dari atas bukit yang mengawasi hutan, bisa terlihatlah garis perbatasan hitam, diikuti cahaya putih dari tempat Liasca berada. Hutan yang diliputi cahaya itu langsung berubah dari kehijauan musim panas menjadi hitamnya musim dingin. Tak ada daun yang tersisa sehelaipun, semuanya mati.
Ditengahnya, ada Lia yang tengah menangis, bertumpu pada Rancarte. Dihadapannya, Sarcos yang menyerang desanya terkapar di tanah, tidak bergerak sedikitpun, begitu juga wujud dalam kereta daging yang tergantung pada badannya.
Wajahnya yang tadi kosong kini membeku oleh ekspresi ketakutan yang mendalam.
'Kematian yang bahkan ditakuti oleh mahkluk yang telah mati... itukah saya ?' Liasca terjatuh berlutut.
|