End of Summer 2018

Okey, ini emang bener-bener out of nowhere, soalnya nggak ada cerita tentang summer anime (malas) dan judul apa aja yang gue tonton tau-tau udah kelar musim panasnya. ????

Dari banyak judul musim panas ini, secara pribadi, nggak ada anime yang menurut gue bagus untuk ditonton. ???? Nggak tau kenapa, tapi nggak ada aja yang membuat gue penasaran untuk ikutin per episodenya, nggak sampe nunggu-nunggu next week supaya bisa segera tau lanjutannya, nggak ada rasa cliffhanger di ending tiap episode, atau ya hal-hal sejenisnya lah. ????

Jadi kalo ada beberapa judul musim panas yang dibahas di sini, berarti gue nontonnya ya so-so aja, malah rasanya ya kayak sambil lewat aja. Mungkin bisa dibilang kalo nontonnya ya murni karena (nyari) hiburan aja. Bukan jadi kewajiban juga sih tapi kayak berasa “daripada nggak ada tontonan”. ????

Lupin III Part V

Sebagai awal bahasan, ada peninggalan musim semi yang gue tonton (iya bukan anime musim panas, tau…) tapi malahan menurut gue lebih menarik daripada anime-anime musim panas, yaitu Lupin III – Part V. Yup, ini judul klasik tapi kali ini ceritanya Lupin ada di Eropa dan lebih banyak berada di Perancis, negeri asal muasal tokoh Arsène Lupin (gentleman thief karya Maurice Leblanc) yang (ceritanya) merupakan leluhur Lupin III. Cerita Lupin III sebenernya ya sederhana aja, cerita tentang pencuri legendaris yang selalu berhasil mencuri apapun yang dia inginkan dan itu nggak cuma terbatas di uang, perhiasan atau benda seni. Serunya ya karena si Lupin III ini nggak “ketinggalan jaman”, dia nggak cuma bermusuhan sama Inspektur Zenigata yang berusaha nangkep dia, tapi juga harus berhadapan dengan kejamnya media sosial alias sosmed. Sesuatu yang memang umum terjadi di masa sekarang, dan di dunia nyata. ????

Overlord III

Boring. Jujur season 3 ini tadinya gue harapkan bisa membuat anime summer lebih greget karena ya gue ngikutin season 1 dan 2, tapi sepanjang musim panas (saat ini ditulis udah sampe episode 11, mungkin 1 episode lagi sebelum tutup musim), ceritanya agak boring, banyakan ngomong, dan … boring. ???? M
ungkin karena gue nggak baca versi media cetaknya, tapi justru itu intinya, anime kan dibuat untuk bisa dinikmati secara audio visual dan ‘hidup’, kalo datar aja ya jadinya membosankan. Kalo dibilang di novel/manga nya lebih seru, bisa jadi, tapi karena gue liatnya media anime ya otomatis bilang: nggak seru. Kalo dibilang baca aja novel/manga nya, ya … itu di luar konteks animindo. ????

Angolmois – Genkou Kassenki

Okey, gue nonton ini karena tertarik sama background ceritanya yang berkaitan dengan samurai dan era di mana mereka masih berjaya. Dan di sini samurainya nggak pake basa-basi, kill or be killed. Dicampur sama cerita tentang invasi Mongolia ke Jepang, tapi sejauh pengetahuan gue nggak berkaitan ama tokoh-tokoh sejarah yang beneran ada, jadi cenderung lebih bebas. Yang jelas gue suka sih di sini tokoh utamanya nggak cengeng dan nggak kebanyakan drama. Dia digambarkan berpikir praktis seperti seorang petarung yang sedang berhadapan dengan musuh, dia nggak ragu untuk menebas musuh, dan bahkan memenggal kepala orang yang bertarung bersama dia melawan musuh tapi akhirnya berkhianat. Itupun dia lakukan dengan tetap menjaga kehormatan seorang samurai. Begitu juga dengan yang dia penggal, dia sadar penuh sudah berkhianat dan dia juga bertanggung jawab atas perbuatannya. Secara umum, buat gue ini layak tonton meskipun bukan yang bagus banget karena ya pada akhirnya jujur aja, agak generik, nggak ada sesuatu yang istimewa. ????

Kalopun ada yang gue anggap menarik, adalah karakterisasi tuan putrinya. Yang jelas dia bukan tipe pasrahan, tapi di sini digambarkan juga kalo dia berani mengambil inisiatif pendekatan ke tokoh utama (meskipun dilakukan kalo pas dia lagi tidur, dan nggak cuma satu kali). Nah gue nggak tau apakah memang budaya atau sejarah atau karakter perempuan Jepang di masa itu memang seperti itu, atau ceritanya tuan putri ini memang agak beda dibandingin perempuan lain di masanya. Karena tadinya gue pikir sebagai tuan putri itu dia nggak akan mau/berani ngambil inisiatif seperti itu, paling minimal dia menahan diri sekuat tenaga. Mungkin yang lebih paham budaya Jepang lebih tau (dan yang gue maksud yang beneran mempelajari ilmu budaya, bukan yang cuma kyaa kyaa doang bisanya. ????)

Isekai Maou to Shoukan Shoujo no Dorei Majutsu

Lagi-lagi isekai, alias transmigrasi ke dunia lain. ???? Tema yang mendadak booming (lagi). Padahal sebenernya udah ada sejak lama. Serius. Coba aja baca tulisan tsu beberapa waktu lalu.

Kenapa gue nonton ini? Karena eh karena, liat di medsos katanya di musim panas kali ini, judul isekai inilah yang dibilang masih layak tonton dibanding ama isekai yang satu lagi (ntar gue sebut juga kok ????). Berhubung penasaran ya akhirnya nonton, dan … ya gitu deh. Intinya pindah dunia lain, punya harem, tapi jagoannya orang yang socially awkward alias gak gaul dan skill komunikasinya dengan orang lain sangat buruk karena di kehidupan aslinya dia memang menutup diri. Ceritanya? Biasa aja. Tipikal, player level tinggi masuk dunia seperti gamenya tapi yang lain levelnya di bawah dia, lalu dia harus lawan ‘demon lord’ nya, dikasih twist pengkhianatan dikit di ujung pas mau tamat, but all’s forgiven, trus ya udah, kelar. ????

Hyakuren no Haou to Seiyaku no Valkyria

Nah ini yang sempat disebutkan sebelumnya, berdasarkan sabda para netijen, ini isekai yang terburuk di musim panas. Yang mana dalam hal ini gue setuju. Loh, berarti gue tonton? Iyes, gue tonton. ???? For objectivity! ???? Kalo yang di atas gue bilang ceritanya biasa aja, nah kalo yang ini … gue nggak tau kategorinya apa. ???? Cerita langsung dimulai dengan si jagoan udah ada di isekai, udah ada haremnya, tinggal nambahin beberapa cewek lagi. Kenapa dia bisa sampe ke dunia itu nggak dijelasin, cuma diliatin sekilas-sekilas di opening song. ???? Sepanjang serial juga dijelasinnya cuma seiprit doang. Supaya lebih gajebo, si jagoan bisa komunikasi ama ceweknya di dunia lain dengan menggunakan henpon nya! Damn. Itu providernya canggih banget bisa komunikasi antar dimensi. Hebatnya, itu henpon bisa dicharge tanpa listrik di isekai-nya. Lebih hebat konyolnya lagi, si jagoan bisa “cheat” dengan cara browsing lewat hpnya untuk bisa mengatasi situasi yang dia hadapi. ???? Saran gue sih sederhana, nggak usah ditonton. Hahaha.

Shichisei no Subaru

Anohana dikawin silang ama SAO. Kayaknya itu udah cukup jelas. Geng anak-anak, demen main game online yang model virtual. Coba gue cek daftar hadirnya dulu. Satu cewek meninggal, gang leader-nya jadi menutup diri karena sebenernya dia seneng ama yang meninggal, satu cowok yang seneng ama yang meninggal nyalahin dia, satu cewek yang pendiam seneng ama cowok yang nyalahin leader, satu cewek
yang seksi seneng ama leader tapi leader nggak, satu cowok yang easy going. Yang meninggal, tiba-tiba diketahui masih ‘hidup’ di dunia virtual. Dia muncul di hadapan si leader dan punya 1 keinginan: mengumpulkan lagi teman-teman se-geng-nya. Gimana mau nggak kepikiran Anohana coba? ????

Buat yang nonton Anohana pasti bisa sebutin karakter-karakter itu siapa aja, dan mereka semua ada di anime ini. Cuma di sini hantu yang meninggal bukan keliaran di dunia nyata tapi di dunia virtual. Terus ceritanya ada plot twist di mana ada organisasi/perusahaan yang berusaha mewujudkan kekuatan ‘senses’ para player dunia virtual ke kehidupan nyata. Tapi dangkal banget penjelasan dan upayanya, malah sepanjang serial nggak ada apa-apanya jadi kayak PvP aja. (buat yang biasa main game online, pasti tau kan PvP apaan, kalo nggak ya bisa tanya kakek Wiki). Udah gitu konklusinya cuma ada mereka berhasil reunian lalu di suatu tempat ada berita kalo ada organisasi yang diselidiki ama pihak berwajib karena melakukan percobaan itu. That’s it.

Mungkin anime ini harusnya nggak kayak gini, nggak tau ada hubungannya apa nggak dengan berita bahwa produser anime ini ditangkap pihak berwajib karena diduga menculik seorang remaja … ????

Want to watch

Ada judul yang belum gue liat lebih jauh tapi ada rencana mau gue tonton, Tenrou: Sirius the Jaeger, belum tau bakalan kayak apa, baru sempat liat 2 episode awal jadi belum bisa komen juga. Cuma kok kayaknya netijen adem ayem aja ama judul satu ini. Mungkin kurang menarik? Atau karena bukan isekai, nggak ada harem dan no moe-moe jadi nggak diminati? Nggak tau juga.

Thus ended the summer of 2018

Magical Girl Lyrical Nanoha : Reflection

Sebagai fans dari Nanoha franchise sebetulnya saya agak malu untuk mereview movie ini,karena movie ini keluar kurang lebih setahun yang lalu, dan saya seperti enggan untuk melihat ataupun mendengar apapun mengenai film ini. Namun gelombang nostalgia membuat saya memberanikan diri untuk menonton cerita original pertama untuk movie timeline dari Magical Girl Lyrical Nanoha.

Nama Magical Girl Lyrical Nanoha bagi saya adalah sebuah kenangan indah, berawal dari spin-off dari game dewasa Triangle Hearts 3 yang nantinya menjadi anime Sweet Songs Forever, Nanoha menjadi salah satu anime magical girls ternama. Season 1 dan 2 (A’s) nya mendapat sambutan baik dari penggemar anime karena mengusung tema yang cukup dewasa, gelap dan kompleks serta koreografi layak nya anime mecha, sesuatu yang langka untuk ukuran anime magical girls. Namun sayang nya semenjak StrikerS (season 3) berakhir, rasanya Nanoha sudah melewati masa-masa emas nya.

Dalam dunia manga pun situasi tidak juga lebih baik dimana the true heir dari Nanoha franchise, manga Nanoha Force yang ditulis sendiri oleh Tsuzuki Masaki (creator dari Nanoha franchise) mengalami hiatus.

Memang masih ada series seperti
ViviD dan Vivid Strike, namun serial ini lebih tepat disebut spin off dan sama sekali tidak mencerminkan Nanoha sebagai sebuah setting dunia, hanya ada….. cute girls, fight each other, in a tournament….this is Nanoha, not a Street Fighter…. 🙁

Satu-satunya yang masih berlanjut dan menjadi harapan para fans lama Nanoha adalah movie series, dan untung nya Nanoha Movie 1st dan Nanoha Movie 2nd Ace, cukup mumpuni walau dengan perubahan dan kompresi kiri dan kanan. Jeda cukup lama mulai dari 2012 ke 2017 antara movie 2 (2nd AceS) dan 3 (Reflection) membuat banyak orang lupa atau enggan untuk melirik movie ini, namun pendapatan (ekuivalen) sebesar USD 1,4 juta dollar sepertinya membuat studio Nanoha yaitu Seven Arcs yakin untuk melanjutkan movie series ini menuju ke movie 4.

Movie 3 bercerita mengenai sepasang kakak-adik Amitie dan Kyrie Florian yang berusaha untuk mengembalikan kehidupan di planet mereka Eltria dan juga mencari pengobatan untuk ayah mereka yang sakit secara misterius. Ketika Amitie dan sang ibu berusaha untuk mencari solusi dengan cara logis, sang adik Kyrie mencarinya dari sumber yang tidak wajar, dia menemukan sebuah artifak dengan AI didalam nya, Iris. Artifak tersebut menuntun nya untuk pergi ke Non-administrated World no.79 atau yang kita kenal sebagai Bumi, untuk mencari Eternal Crystal, benda magis yang kuat yang akan mengabulkan permintaan Kyrie untuk menolong planet dan ayahnya. Namun Iris berpesan kepada Kyrie bahwa yang mereka lakukan akan membuat kekacauan di bumi, dan para agen Time and Space Administration Bureau (TSAB) tentu tidak akan tinggal diam, terlebih untuk trio Aces mereka, Takamachi Nanoha, Fate Tesstarosa H. dan Yagami Hayate.

Secara teknis, movie 3 (Reflection) ini adalah peningkatan dari movie 1 dan 2. Beberapa adegan terlihat bahwa hand drawn animation berpadu sempurna dengan digital background dan effects. Materi dari cerita Reflection ini pun di presentasikan dengan gaya yang lebih dewasa dimana darah dan mild violence terlihat cukup sering (Angry Nanoha FTW) serta adanya sentuhan realistis dimana ada warga sipil non mage yang terlibat bencana, ada pihak berwajib (polisi) yang bereaksi kepada kejadin dan juga pihak TSAB yang ikut membantu dis
aster relief, semua ini absen di movie 1 dan 2 btw. Yang menarik adalah tidak seperti movie 1 dan 2 yang lebih kepada reimagining dari Nanoha season 1 dan 2, movie 3 ini adalah cerita original, karakter Amitie dan Kyrie Florian (dan beberapa karakter lain) diambil dari game PSP, Nanoha A’s Portable : Gears of Destiny. Nanoha Force menyumbangkan design baru untuk Bardische dan Raising Heart, Nanoha Formula Suit barrier jacket dan juga senjata2 baru
(Reflection adalah representasi animasi device terbaik dalam Nanoha franchise) yang dipakai oleh TSAB, hanya Iris yang merupakan karakter khusus dari movie ini.

Sayangnya, walaupun dari segi materi dan animasi serta penyajian dari movie ini bisa dianggap luar biasa, namun faktor story dan pacing dari movie ini tergolon
g lebih lemah daripada movie 1 dan 2. Plot cerita yang diambil langsung dari game Gears of Destiny menurut saya tidak di translasikan dengan baik kedalam format film. Pacing yang lambat di awal, lalu non-stop action hingga akhir film juga tidak memberikan kita waktu untuk appreciated the character atau the enviroment dengan baik. Beberapa adegan di awal movie berasa hanya pajangan dan tidak mempunyai real weight bagi cerita keseluruhan, sehingga seakan mengaburkan point dari movie ini.

Namun paling tidak saya masih menghargai usaha Seven Arcs untuk stay true kepada franchise di Reflection, dimana semuanya masih berasa Nanoha, bahkan karakter-karakter yang terlupakan seperti Arf dan Zafira atau bahkan Amy, Shari dan keluarga Bannings, Takamachi serta Tsukimura muncul walau hanya 1-2 scenes.

In the end, saya masih bersyukur kepada Reflection, walaupun bukan Nanoha yang seperti saya harapkan, namun paling tidak Reflection memberi nafas baru kepada franchise ini. Sekarang nasib keberlanjutan franchise ini ada di pundak movie 4, Nanoha Detonation.

Full Metal Panic! Invisible Victory – the victory is not (yet) visible?

Full Metal Panic! adalah salah satu judul anime dengan genre action, mecha, romance, dan sedikit comedy yang terkenal dan easily lovable karena baik cerita maupun karakter-karakternya menyenangkan untuk diikuti. Serial buatan Gato Shoji ini muncul dalam berbagai bentuk media, berawal dari light novel, kemudian dibuat v
ersi anime dan manga. Untuk versi non-anime sudah mencapai ending, sementara untuk versi anime masih bersifat ongoing.

Dimulai dari serial anime (di sini hanya dibahas versi anime saja) dengan judul Full Metal Panic! yang dirilis Gonzo pada tahun 2002 di mana penonton diperkenalkan kepada kedua tokoh utama yaitu Kaname Chidori dan Sagara Sousuke serta keterlibatan mereka dalam perang melawan teroris, diikuti dengan Full Metal Panic! Fumoffu tahun 2003 yang lebih difokuskan pada kehidupan sehari-hari kedua remaja itu bersama teman-teman mereka tanpa ada unsur kekerasan dan intrik yang berat, kemudian Full Metal Panic! The Second Raid pada tahun 2005 yang merupakan kelanjutan dari serial pertama di mana mereka akan berhadapan dengan organisasi rahasia yang merupakan dalang dari semua kejadian yang menimpa mereka. Kedua judul ini digarap oleh Kyoto Animation. Sempat dirilis satu OVA pada tahun 2006 yang isinya hanya side story saja kemudian judul ini vakum dari dunia per-anime-an lebih dari 10 tahun, sampai pada akhirnya di musim semi 2018, dirilis serial terbarunya yang diberi judul Full Metal Panic! Invisible Victory yang dikerjakan oleh Xebec.

Anime ini menceritakan tentang Chidori Kaname (seiyuu: Yukino Satsuki), seorang anak SMA biasa sampai suatu hari sekolahnya kedatangan seorang anak baru bernama Sagara Sousuke (seiyuu: Seki Tomokazu). Sousuke yang canggung dan selalu berkelakuan seperti seorang anggota militer awalnya dianggap menyebalkan dan dikira adalah seorang remaja yang terobsesi dengan segala sesuatu yang berbau militer, tetapi sesungguhnya dia memang anggota dari sebuah organisasi anti teroris internasional yang bergerak secara diam-diam dan didukung oleh teknologi militer yang canggih dengan nama “Mithril”. Mithril dipimpin oleh seorang anak perempuan berusia 16 tahun yang bernama Teletha “Tessa” Testarossa (seiyuu: Yukana), seorang jenius yang menciptakan sebuah kapal selam super canggih yang menjadi markas berjalan Mithril, Tuat
ha de Danaan. Selain kapal selam ini, Mithril juga dipersenjata
i dengan robot tempur yang disebut “Arm Slave” atau disingkat AS.

Sousuke disusupkan ke sekolah itu untuk mengawasi dan menjaga Chidori karena diketahui bahwa Chidori sebenarnya adalah seorang “whispered”, yaitu seseorang yang mempunyai rahasia teknologi yang dikenal sebagai
“Black Technology” tertanam di dalam alam bawah sadarnya. Karena kemampuannya inilah Chidori kemudian menjadi incaran banyak pihak, termasuk organisasi rahasia bernama “Amalgam” yang merupakan musuh besar Mithril.

Dengan bantuan Chidori, Mithril akhirnya berhasil menciptakan sebuah Arm Slave canggih yang dilengkapi dengan “Lambda Driver” sebuah teknologi yang memungkinkan AS untuk memprediksi dan melindungi diri dari serangan musuh dengan akurat. Arm Slave itu kemudian diberi kode ARX-7 Arbalest dan menjadi AS pribadi Sousuke. AI (artificial intelligence) yang ditanam di dalamnya menyatakan bahwa Sousuke adalah satu-satunya orang yang bisa menggunakan AS tersebut.

Hubungan Sousuke dan Chidori digambarkan oleh Gatoh sebagai sesuatu yang ingin dia buat berbeda dari kebanyakan light novel di mana biasanya karakter perempuan menjadi karakter yang harus ditolong oleh karakter laki-laki. Dalam hubungan Sousuke dan Chidori, dia membuat karakter Chidori sebagai seseorang yang menolak menjadi pihak yang lemah dan justru dia memilih untuk menjadi support dan melindungi Sousuke dengan caranya sendiri. Gatoh juga menyisipkan unsur komedi dalam menggambarkan hubungan antara Chidori dengan Sousuke yang mempunyai latar belakang berbeda.

FMP! Invisible Victory

Full Metal Panic! Invisible Victory adalah serial TV ke-4 di mana diceritakan bahwa Amalgam, yang ternyata dikendalikan oleh kakak kandung Tessa yaitu Leonard Testarossa (seiyuu: Namikawa Daisuke) telah berhasil menghancurkan Mithril dan sisa anggota Mithril di bawah pimpinan Tessa harus melarikan diri dengan Tuatha de Danaan dan mulai mengatur serangan balik. Sementara Sousuke yang sedang bersama Chidori harus bertarung melawan Amalgam yang menyerang dan menyandera teman-teman mereka di sekolah. Dalam pertempuran ini, Sousuke kehilangan Arbalest yang dihancurkan oleh Amalgam dan Chidori yang bersedia ikut dengan Leonard agar Sousuke tidak dibunuh.

Selama 6 bulan Sousuke berusaha melacak keberadaan Chidori dan akhirnya dia berhasil menemukan petunjuk dan mendapat “teman baru” yaitu ARX-8 Laevatein yang dibangun menggunakan AI dari Arbalest yang berhasil diamankan oleh Wraith (seiyuu: Ohara Sayaka) salah satu anggota intelijen Mithril yang membantu Sousuke saat terjadi pertempuran di sekolah.

Sousuke yang akhirnya menemukan Chidori terpaksa harus terpisah lagi karena Chidori dibawa pergi oleh Amalgam yang sekarang dibantu
oleh Andrei Sergeivich Kalinin (seiyuu: Ootsuka Akio) mantan atasan Sousuke dan mantan anggota Mithril yang sekarang bergabung dengan Amalgam dengan sebutan Mr. Kalium. Chidori yang (masih) menjadi sandera, mengatakan kepada Sousuke bahwa apapun yang terjadi dia ingin agar Sousuke berjanji untuk menemukannya di mana pun dan dia akan menunggu.

 

My thoughts?

Lebih dari 10 tahun nunggu kelanjutannya dan muncul dengan judul Invisible Victory … hmm … I would expect some conclusion, no? NO! Ternyata nggak ada ending yang diharapkan! Ujungnya ya cuma “Come find me, I’ll be waiting for you no matter how long will it takes“. Does this mean another 10 years or so waiting for a visible victory? Wadaw. 🙁

Rage? Harus diakui, iya sih. Selain “tamat” yang kayak gitu, di serial ini kita nggak akan temuin chemistry antara kedua tokoh utama seperti biasanya. Oke lah karena mereka terpisah world’s apart dan effort Sousuke untuk melacak keberadaan Chidori yang jadi fokus utama. Tapi nggak cuma itu, Chidori yang biasanya digambarkan strong willed girl di sini jadi kayak plin plan nggak jelas dan akhirnya malah jadi karakter cewek seperti karakter cewek yang ingin dihindari Gatoh di awal dia menciptakan FMP!. Karena
gue nggak baca full l
ight novel atau manga-nya, jadi nggak tau apakah di kedua media itu Chidori memang digambarkan sama seperti yang ada di anime FMP! IV ini.

Kemudian ada karakter Nami yang sepertinya di anime singkat ini jadi cuma kayak batu loncatan untuk trigger Sousuke supaya kembali fokus ke tujuan awal dia yaitu melacak Amalgam dan menyelamatkan Chidori. Nami sendiri umurnya pendek banget, cuma beberapa episode dan abis itu dia dibunuh sama Amalgam. Short-lived chara. Mungkin kalo di Avengers dia kayak Coulson yang dimatiin karena “they (he) needed the push“. Entah signifikansinya Nami di sini seberapa besar, tapi ya kasian aja, sempet ditampilkan kalo dia terampil dalam setting AS dsb, tapi nggak berdampak juga pada akhirnya.

Overall gue merasa FMP! IV ini serba nanggung, actionnya nanggung, romancenya nanggung, plotnya nanggung, dst. Mungkin gue terlalu cepat menilai karena bisa saja ini separuh pertama, dan nanti akan ada episode 13 dst. Tapi sayangnya so far, belum ada kabar apakah itu akan terjadi atau tidak. Padahal di media yang lain, FMP! sudah tamat (bahkan kayaknya banyak yang suka dengan endingnya, belum pernah baca juga soalnya hahaha). Dan kalopun ada, please jangan nunggu 10 tahunan lagi baru dikeluarin…

Best online pharmacy with fast delivery order singulair online order super cialis online